Satu jam lewat tengah malam. Kaki tepat menapak di pelataran pintu masuk stasiun Gambir. Misinya adalah menjemput kawan yang datang dari Cilacap, mengunjungi Ibukota untuk sebuah pekerjaan sementara. Nyaris terdengar klise, sebagaimana ratusan ribu orang menyambangi Ibukota untuk secercah harapan; mendapatkan pekerjaan. Tunggu saja hingga lebaran tahun ini tiba, spanduk-spanduk himbauan tergelar di seantero Ibukota.

“Jangan ajak sanak-famili tanpa pengalaman kerja untuk datang ke Jakarta!”

“Tanpa pengalaman, Anda tidak bisa bekerja di Jakarta!”

Dan seterusnya.

Himbauan yang berbau ancaman. Satpol PP bersemangat untuk melaksanakan operasi yustisi. Lucunya, seringkali bingkai nama yang terserat di seragam mereka bertuliskan: SULARTO – CASKIM – SLAMET – dan semacamnya. Jenis nama pendatang. Mungkin saja mereka sudah menjalani proses naturalisasi untuk menjadi warga sah Ibukota. Soal pengalaman kerja, bisa jadi mereka sudah ahli gebukin orang. Gampanglah.

Read the rest of this entry »

“Dasar mental tempe!” Ungkapan (umpatan lebih tepatnya) itu acapkali terdengar sebagai ekspresi atas perilaku yang dianggap buruk, lemah, berderajat rendah. ‘Tempe’ dalam umpatan itu tentu saja mengacu pada jenis makanan tradisional (kata tradisional disini tentu saja mengacu pada sifat turun temurunnya) masyarakat Jawa.

Sejarah tempe sebagai makanan tradisional dari kedelai belum banyak terungkap. Hanya ada beberapa petunjuk yang salah satunya dari Serat Centini yang ditulis pada abad 19, yang memuat kata tempe didalamnya (untuk referensi, silahkan dilihat dihttp://id.wikipedia.org/wiki/Tempe).

Tempe sebagai makanan juga seringkali difitnah sebagai makanan kelas bawah, tak layak konsumsi, tak prestise, dan kumuh. Apalagi bila bicara tempe jenis bongkrek, yang konon beracun (soal ini bisa dibaca juga pada bagian novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari).

Setidaknya bagi Datuk (kakek) saya, orang Lampung Selatan sejati, mantan saudagar kopi, tempe adalah sesuatu yang hina. Suatu ketika, saat saya mengunjunginya, beliau menawarkan cucu-nya ini untuk makan siang yang enak. Ketika saya bilang saya mau makan tempe goreng, dia bilang begini; “Bah, apa-apaan! Masa tempe?! Itu makanan orang susah! Biar nenekmu cari ikan mas saja!”

Bagi Datuk saya, tempe berkonotasi dengan kaum buruh dari pulau Jawa yang datang ke tanah Lampung pada abad lampau sebagai budak perkebunan. Dasar orang Jawa, mau merantau dimana pun yang dicari mesti tempe. Seperti Bapak saya, produk Banyumas asli, yang kesehariannya tak bisa lepas dari tempe.

Read the rest of this entry »

1998, tahun pertama kali saya memasuki ruangan itu. Sebuah kebetulan yang kemudian berlanjut menjadi kebiasaan. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa ruangan semacam itu bisa menjadi tongkrongan yang absolut sifatnya, setidaknya bagi sebagian orang, ruangan itu merupakan nadi keseharian yang nyaris tak mungkin ditinggalkan barang sehari saja.

Maka, saya hadir disana sebagai pendatang baru. Warteg Pak Tamyiz (alm.) depan FISIP Unsoed, menjadi catatan sejarah tersendiri. Bahkan setelah sekian tahun meninggalkannya, secara samar ia tetap hadir sebagai hantu berhala romantisme yang sedemikian kukuhnya.

“Anak Warteg” (mari kita singkat saja sebagai AW) adalah sebutan bagi orang-orang yang selalu hadir dan mengalami kesehariannya disana. AW ini bukanlah sebutan yang main-main karena ia mengandung banyak beban semiotik didalamnya. AW terkenal sebagai sosok yang konon narsis, politis, kritis (baik secara pemikiran maupun kemampuan ekonomi), romantis, bau-is, jarang mandi-is, sombong-is, serta is-is lainnya.
Read the rest of this entry »

“Jangan lupa pilih nomor 1”, begitu ucap ayah saya. Beliau tidak pernah absen untuk memberikan petuah pilihan calon dibanyak hajat politik. Pilgub Jakarta waktu lalu, beliau rajin mengingatkan agar pilih yang berkumis. Sepanjang yang saya ingat, kami tidak pernah bersepakat soal pilihan politik kecuali soal Gus Dur jadi presiden. Itu saja, tidak pernah yang lain.

Saya hanya tertawa kecil ketika beliau mengucapkan kalimat itu, dengan sungguh-sungguh. Hampir 35 tahun saya jadi anak lanang bontotnya, selama itu juga saya lebih sering ngeyel daripada mendengarkan petuahnya.

Namun saya baru sadar di musim debat-kampanye pilpres kali ini, tidak sedikit pun saya pernah berdiskusi dengan beliau. Biasanya, ditiap pertemuan kami akan selalu ada diskusi politik barang 10 menitan. Tidak ada petuah selain kalimat sakti diatas. Entah kenapa saya merasa ada “ketidak-mungkinan” untuk membahas itu dengannya. Bukan keengganan, tapi ketidak-mungkinan.

Read the rest of this entry »

Bapak pernah mengajarkan saya untuk tidak takut pada kehidupan. Bapak pernah mengatakan bahwa setiap lelaki mesti keluar dari rumah, meski mungkin akan kembali. Bapak mengajarkan saya mengenai kehidupan dan penghidupan. Bapak mengatakan kepada saya agar jangan takut pada keduanya.

Bapak lahir jelang agresi militer Belanda yang kedua, disebuah desa di Banyumas. Dari keluarga petani yang kata Bapak tidaklah cukup mampu. Jadi Bapak tidak kenal sampo anti ketombe. Tubuh Bapak hingga kini penuh dengan panu, karena sejak kanak Bapak tidak hidup dalam kaidah-kaidah kebersihan tubuh, apalagi keindahan. Bapak lumayan jelek rupanya.

Bapak mengajarkan saya falsafah kehidupan, dan mengingatkan saya agar tidak takut padanya. Bapak tumbuh dewasa ditengah konflik ’65, didera inflasi hebat. Bapak terbiasa lapar, dan miskin tentunya. Hingga kini pun Bapak tidak pernah benar-benar menjadi kaya. Berkecukupan adalah kata yang menggambarkan Bapak.

Bapak tidak pernah terlihat khawatir dengan kehidupan. Bapak tidak didera oleh kebutuhan sekunder. Ini yang mungkin Bapak lupa ajarkan kepada saya; kebutuhan sekunder tidaklah ajeg, ia bisa merayap menjadi kebutuhan primer. Yang tadinya mewah, menjadi biasa saja. Read the rest of this entry »