Joni termenung melihat puntung sigaret bergincu, di asbak, di meja, di kafe, di kota metropolitan. Malam yang menggelayuti dan bau udara selepas hujan memasuki ruangan dan bergabung dengan pikirannya yang mengawang-awang.
Sigaret itu, dengan gincu di filternya terlihat begitu menggugah. Tergeletak ditengah asbak, diantara potongan kretek yang dihisapnya sedaritadi. Terlihat kontras. Sigaret dengan gincu di filternya, bergabung dengan potongan kretek dengan kesan sangat lelaki; Keras, tajam, kasar.
Pemiliknya adalah wanita dengan bibir bergincu. Cukup tebal dan merona. Tentu saja; sangat menggoda. Joni terpaku melihat gerak bibir bergincu itu ketika terselipkan sebatang sigaret putih. Dengan gerakan perlahan, wanita bergincu itu menyalakan korek api gas secengan, dengan begitu khidmad. Dia tampak ingin menelan kegelisahan, kemudian memuntahkannya bersama dengan asap sigaret.
“Siska”, begitu kata bibir bergincu menyebut namanya. Joni menyambut tangan halusnya dengan segenap rasa.
“Joni”, sambutnya dengan gaya seasoy mungkin.
“Wanita kece sepertimu tampak sendirian. Bagaimana mungkin bisa”?
“Dan pria sekece kamu juga tampak sendirian. Bagaimana mungkin bisa”? balasnya dengan mata sayu, sesayu mata Nia Daniati.
Joni senyum sambil berdehem. Polahnya terlihat salah tingkah, setelah gombalannya mendapatkan balasan setimpal, mungkin lebih.
“Boleh aku duduk disini”?
“Silahkan”.
Tidak ada yang cembokur”?
“Tidak”
Joni terdiam. Wanita itu juga. Joni terus memperhatikan wajahnya, terutama bibir bergincu dari sudut matanya. Wanita itu tampak tak peduli, terus menikmati kegelisahan bersama asap sigaret yang sesekali mengepul dari bibirnya.
“Aku pergi. Terimakasih untuk menemani”.
Wanita itu cepat bangun dari duduknya dan pergi meninggalkan Joni sendiri. Tak sempat Joni berkata-kata, wanita itu sudah menghilang dari pandangannya. Kini tinggal Joni kembali sendiri, dengan putung sigaret bergincu di asbak.

Leave a comment
Comments feed for this article