Bapak pernah mengajarkan saya untuk tidak takut pada kehidupan. Bapak pernah mengatakan bahwa setiap lelaki mesti keluar dari rumah, meski mungkin akan kembali. Bapak mengajarkan saya mengenai kehidupan dan penghidupan. Bapak mengatakan kepada saya agar jangan takut pada keduanya.

Bapak lahir jelang agresi militer Belanda yang kedua, disebuah desa di Banyumas. Dari keluarga petani yang kata Bapak tidaklah cukup mampu. Jadi Bapak tidak kenal sampo anti ketombe. Tubuh Bapak hingga kini penuh dengan panu, karena sejak kanak Bapak tidak hidup dalam kaidah-kaidah kebersihan tubuh, apalagi keindahan. Bapak lumayan jelek rupanya.

Bapak mengajarkan saya falsafah kehidupan, dan mengingatkan saya agar tidak takut padanya. Bapak tumbuh dewasa ditengah konflik ’65, didera inflasi hebat. Bapak terbiasa lapar, dan miskin tentunya. Hingga kini pun Bapak tidak pernah benar-benar menjadi kaya. Berkecukupan adalah kata yang menggambarkan Bapak.

Bapak tidak pernah terlihat khawatir dengan kehidupan. Bapak tidak didera oleh kebutuhan sekunder. Ini yang mungkin Bapak lupa ajarkan kepada saya; kebutuhan sekunder tidaklah ajeg, ia bisa merayap menjadi kebutuhan primer. Yang tadinya mewah, menjadi biasa saja.

Bapak tidak khawatir bila rambutnya berketombe. Bapak tidak khawatir bila tidak kompatibel dengan teknologi. Teknologi yang paling canggih yang dapat Bapak operasikan tanpa bantuan adalah remote televisi. Bahkan untuk menemukan menu missed call di handphone, Bapak butuh bantuan. Bapak adalah fosil hidup yang tidak didera oleh kemajuan jaman. Sungguh ajaib kemampuan survival Bapak dalam menghadapi jaman.

Saya tentu berbeda dengan Bapak. Saya hidup penuh dengan kekhawatiran. Saya khawatir bila rambut saya berketombe, tak punya Blackberry, tidak selaras dengan jaman. Saya adalah produk jaman penuh kekhawatiran akan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sekunder saya. Tidak seperti Bapak; yang bisa nanti, ya nanti saja.

Saya adalah produk jaman yang penuh ketergesaan. Melesat tanpa hirau dengan tanda-tanda keselamatan. Saya adalah manusia penuh celaka yang disebabkan oleh kehendak saya sendiri agar menjadi aktual. Dan ternyata saya tidak menjadi bangga dengan itu semua.

Bapak mengajarkan saya untuk tidak takut pada kehidupan, nyatanya saya takut. Dan saya terlalu mabuk untuk menyelesaikan ini. Bapak sudah tidur. Nanti subuh bangun untuk sholat. Setelah sarapan nanti pasti akan berkebun. Sial benar Bapak, sial benar jaman, dan sial benar saya ini.

Advertisement