Bapak pernah mengajarkan saya untuk tidak takut pada kehidupan. Bapak pernah mengatakan bahwa setiap lelaki mesti keluar dari rumah, meski mungkin akan kembali. Bapak mengajarkan saya mengenai kehidupan dan penghidupan. Bapak mengatakan kepada saya agar jangan takut pada keduanya.
Bapak lahir jelang agresi militer Belanda yang kedua, disebuah desa di Banyumas. Dari keluarga petani yang kata Bapak tidaklah cukup mampu. Jadi Bapak tidak kenal sampo anti ketombe. Tubuh Bapak hingga kini penuh dengan panu, karena sejak kanak Bapak tidak hidup dalam kaidah-kaidah kebersihan tubuh, apalagi keindahan. Bapak lumayan jelek rupanya.
Bapak mengajarkan saya falsafah kehidupan, dan mengingatkan saya agar tidak takut padanya. Bapak tumbuh dewasa ditengah konflik ’65, didera inflasi hebat. Bapak terbiasa lapar, dan miskin tentunya. Hingga kini pun Bapak tidak pernah benar-benar menjadi kaya. Berkecukupan adalah kata yang menggambarkan Bapak.
Bapak tidak pernah terlihat khawatir dengan kehidupan. Bapak tidak didera oleh kebutuhan sekunder. Ini yang mungkin Bapak lupa ajarkan kepada saya; kebutuhan sekunder tidaklah ajeg, ia bisa merayap menjadi kebutuhan primer. Yang tadinya mewah, menjadi biasa saja. Read the rest of this entry »