Kalau hari ini kita berbicara tentang tayangan televisi, mungkin sudah terlalu banyak kritik tentangnya. Tapi toh hingga hari ini kita masih disuguhi dengan hal yang sama, atau bahkan bisa jadi lebih buruk. Televisi bukanlah sekedar ‘kotak ajaib’ yang menayangkan sinyal elektrik hingga membentuk rangkaian visual serta imaji. Secara fisik, Tv pun telah mengalami revolusi yang sedemikian rupa. Dari tabung elektronik hingga menjadi sesuatu yang bisa kita bilang total virtual.

Sedemikian pentingnyakah kita memiliki TV digital dengan layar datar LCD, LED, LSD, atau apapun itu? Sedemikian pentingnyakah kita menyaksikan tayangan televisi hingga benar-benar ‘mendekati aslinya’? mungkin tidak, tapi yang penting kita punya. Itu dulu saja.

Televisi, yang saat ini bisa kita saksikan dimana saja dan kapan saja itu sesungguhnya telah mencengkram keseharian kita sedemikian rupa. Kita akan menjadi sangat tertinggal bila sedikit saja luput darinya. Coba bayangkan, betapa anehnya bila sebuah keluarga tidak memiliki pesawat televisi?  Atau bila hanya memiliki satu belaka? Read the rest of this entry »

….i lost my wallet…..

January 28 2008, The Smiling General is gone. After almost one month in critical condition, Soeharto passed away. What makes it special is; he’s the man that ruled Indonesia for 32 years after Soekarno. In 2007, United Nation announced that Soeharto is the most corrupted president in the world ever, and not long after that news, Indonesian court winning Soeharto accusation over Time magazine that made report about Soeharto corruption.

I knew the news 2 hours after formal announcement on TV. I woke up and switched the TV on, and there was the news about it. I just said to myself; well, it’s about the time. I turn off the TV, and go back sleep again. Lazy day. 3 hours later, I woke up and switch the TV again. Now is the news about the body is taken home by family to Cendana street, the most famous street in Indonesia. It’s the street where Soeharto and family live.

I took my first meal that day. Make myself a cup of coffee. Fighting a bit with my wife about how fucked up my life is. And sit down in front the TV. Again. And now are almost all channels showing the history of Soeharto. Not so surprising actually, unless this kind of show is already screened even long time before he died. With exactly same content, the program was showing how Soeharto to do good for the country. Over and over. Sometime with ‘poetical’ narration about his epos life journey to make Indonesia became good. No, become really goddamn good. Read the rest of this entry »

Para pembaca setia Provoke! pasti kenal yang namanya Sisi. Kalau belum kenal lihatlah edisi Provoke! yang membahas para kontributor Provoke!. Tapi saya tidak akan membahas soal nona Sisi, tapi soal surat yang saya mau kirim ke dia. Suratnya kira-kira seperti ini;

Dear Sisi,

Lama kita tak bersua. Terakhir kali kita bertatap muka, tahun lalu, dibilangan Tebet sana. Kamu bertanya soal film indie. Apa itu film indie?, tanyamu. Film indie adalah film yang dibintangi oleh Indie Barends dan diproduksi di Indiea pada jaman Hindiea Belanda, jawab saya. Muka kamu langsung kecut.

Saya kangen sama kamu dan banyak kegelisahan yang ingin saya sampaikan. Dulu, sejak jaman 80an sampai pertengahan 90an, banyak orang bilang film Indonesia itu mengalami mati suri. Saya protes. Buat saya, film Indonesia tidak pernah mati semenjak ia lahir. Anggapan mati suri itu hadir karena pada era itu film Indonesia dikuasai oleh film-film komedi slapstick kampungan, ranjang-ranjang kampungan, komedi ranjang kampungan, atau film-film eksyen yang juga kampungan. Kampungan. Read the rest of this entry »

Benda itu, terpampang jelas didepan bioskop Megaria, Cikini. Ukurannya besar, menghadap ke jalan raya. Bentuknya pasti mengacu ke salah satu mahluk halus yang terkenal di Indonesia. Matanya berkelap-kelip, seperti lagunya Rano Karno; kelap-kelip lampu bis kota…dududu…Suatu hari, dibulan puasa. Bulan baik kata orang.

Pasti, saya haqul yaqin, benda itu adalah alat promosi film horror yang segera tayang. Keterperangahan saya akan kehadiran benda tersebut tidak kunjung selesai. Pertama adalah soal betapa kitsch nya benda itu. Tidak menarik, apalagi mau dibilang seram. Kedua, ah lagi-lagi film horror…

Sobat-sobit pastinya paham kalau beberapa waktu ini, setidaknya semenjak awal tahun, kita terus digempur oleh kehadiran film-film horror. Seperti tak kunjung habisnya. Bahkan seorang kawan bilang kemungkinan tren ini akan berlangsung cukup lama. Entah berapa lama, tapi yang pasti lama. Selama orang – orang masih senang-senang ditakut-takuti. Read the rest of this entry »

a

 

November 2009
M T W T F S S
« Nov    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30