Bapak pernah mengajarkan saya untuk tidak takut pada kehidupan. Bapak pernah mengatakan bahwa setiap lelaki mesti keluar dari rumah, meski mungkin akan kembali. Bapak mengajarkan saya mengenai kehidupan dan penghidupan. Bapak mengatakan kepada saya agar jangan takut pada keduanya.

Bapak lahir jelang agresi militer Belanda yang kedua, disebuah desa di Banyumas. Dari keluarga petani yang kata Bapak tidaklah cukup mampu. Jadi Bapak tidak kenal sampo anti ketombe. Tubuh Bapak hingga kini penuh dengan panu, karena sejak kanak Bapak tidak hidup dalam kaidah-kaidah kebersihan tubuh, apalagi keindahan. Bapak lumayan jelek rupanya.

Bapak mengajarkan saya falsafah kehidupan, dan mengingatkan saya agar tidak takut padanya. Bapak tumbuh dewasa ditengah konflik ’65, didera inflasi hebat. Bapak terbiasa lapar, dan miskin tentunya. Hingga kini pun Bapak tidak pernah benar-benar menjadi kaya. Berkecukupan adalah kata yang menggambarkan Bapak.

Bapak tidak pernah terlihat khawatir dengan kehidupan. Bapak tidak didera oleh kebutuhan sekunder. Ini yang mungkin Bapak lupa ajarkan kepada saya; kebutuhan sekunder tidaklah ajeg, ia bisa merayap menjadi kebutuhan primer. Yang tadinya mewah, menjadi biasa saja. Read the rest of this entry »

Joni termenung melihat puntung sigaret bergincu, di asbak, di meja, di kafe, di kota metropolitan. Malam yang menggelayuti dan bau udara selepas hujan memasuki ruangan dan bergabung dengan pikirannya yang mengawang-awang.

Sigaret itu, dengan gincu di filternya terlihat begitu menggugah. Tergeletak ditengah asbak, diantara potongan kretek yang dihisapnya sedaritadi. Terlihat kontras. Sigaret dengan gincu di filternya, bergabung dengan potongan kretek dengan kesan sangat lelaki; Keras, tajam, kasar.

Pemiliknya adalah wanita dengan bibir bergincu. Cukup tebal dan merona. Tentu saja; sangat menggoda. Joni terpaku melihat gerak bibir bergincu itu ketika terselipkan sebatang sigaret putih. Dengan gerakan perlahan, wanita bergincu itu menyalakan korek api gas secengan, dengan begitu khidmad. Dia tampak ingin menelan kegelisahan, kemudian memuntahkannya bersama dengan asap sigaret.

“Siska”, begitu kata bibir bergincu menyebut namanya. Joni menyambut tangan halusnya dengan segenap rasa.

“Joni”, sambutnya dengan gaya seasoy mungkin.

“Wanita kece sepertimu tampak sendirian. Bagaimana mungkin bisa”?

“Dan pria sekece kamu juga tampak sendirian. Bagaimana mungkin bisa”? balasnya dengan mata sayu, sesayu mata Nia Daniati.

Joni senyum sambil berdehem. Polahnya terlihat salah tingkah, setelah gombalannya mendapatkan balasan setimpal, mungkin lebih.

“Boleh aku duduk disini”?

“Silahkan”. Read the rest of this entry »

Kalau hari ini kita berbicara tentang tayangan televisi, mungkin sudah terlalu banyak kritik tentangnya. Tapi toh hingga hari ini kita masih disuguhi dengan hal yang sama, atau bahkan bisa jadi lebih buruk. Televisi bukanlah sekedar ‘kotak ajaib’ yang menayangkan sinyal elektrik hingga membentuk rangkaian visual serta imaji. Secara fisik, Tv pun telah mengalami revolusi yang sedemikian rupa. Dari tabung elektronik hingga menjadi sesuatu yang bisa kita bilang total virtual.

Sedemikian pentingnyakah kita memiliki TV digital dengan layar datar LCD, LED, LSD, atau apapun itu? Sedemikian pentingnyakah kita menyaksikan tayangan televisi hingga benar-benar ‘mendekati aslinya’? mungkin tidak, tapi yang penting kita punya. Itu dulu saja.

Televisi, yang saat ini bisa kita saksikan dimana saja dan kapan saja itu sesungguhnya telah mencengkram keseharian kita sedemikian rupa. Kita akan menjadi sangat tertinggal bila sedikit saja luput darinya. Coba bayangkan, betapa anehnya bila sebuah keluarga tidak memiliki pesawat televisi?  Atau bila hanya memiliki satu belaka? Read the rest of this entry »

….i lost my wallet…..

January 28 2008, The Smiling General is gone. After almost one month in critical condition, Soeharto passed away. What makes it special is; he’s the man that ruled Indonesia for 32 years after Soekarno. In 2007, United Nation announced that Soeharto is the most corrupted president in the world ever, and not long after that news, Indonesian court winning Soeharto accusation over Time magazine that made report about Soeharto corruption.

I knew the news 2 hours after formal announcement on TV. I woke up and switched the TV on, and there was the news about it. I just said to myself; well, it’s about the time. I turn off the TV, and go back sleep again. Lazy day. 3 hours later, I woke up and switch the TV again. Now is the news about the body is taken home by family to Cendana street, the most famous street in Indonesia. It’s the street where Soeharto and family live.

I took my first meal that day. Make myself a cup of coffee. Fighting a bit with my wife about how fucked up my life is. And sit down in front the TV. Again. And now are almost all channels showing the history of Soeharto. Not so surprising actually, unless this kind of show is already screened even long time before he died. With exactly same content, the program was showing how Soeharto to do good for the country. Over and over. Sometime with ‘poetical’ narration about his epos life journey to make Indonesia became good. No, become really goddamn good. Read the rest of this entry »

a

 

January 2012
M T W T F S S
« Mar    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.